Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

KRT. H. TARMADJI BUDI HARSOSO, SE, Sang Legenda PSHT

 Kenangan Masa Kecil

Hidup tak ubahnya seperti air. Bergerak mengalir dari hulu, berproses, menuju muara. Begitupun perjalanan hidup H. Tarmadji Boedi Harsono, SE. Siswa kinasih R.M. Imam Koesoepangat --- peletak dasar reformasi ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate --- ini, sebagai layaknya manusia lumrah telah berproses melewati perjalanan waktu penuh liku-liku didalamnya. Atas proses serta bimbingan langsung dari R.M. Imam Koesoepangat itu pulalah, akhirnya dia mencapai puncak  tataran Ilmu Setia Hati dan dipercaya menjadi Ketua Umum Pusat empat periode berturut-turut, sejak tahun 1981. 

Mas Madji, demikian tokoh ini akrab dipanggil, lahir di Madiun, 3 Februari 1946. Merupakan anak sulung, enam bersaudara, dari keluarga sederhana dengan tingkat perekonomian pas-pasan. Ayahnya, Suratman, adalah pegawai di Departemen Transmigrasi. Sedangkan ibunya, Hj. Tunik merupakan ibu rumah tangga yang gati. Dari latar belakang keluarga kecil ini, Mas Madji melewati masa kecil penuh kesederhanaan. Namun ketika beranjak dewasa, semangat juangnya meledak-ledak dalam merubah nasib, hingga ia berhasil menjadi seorang tokoh yang cukup diperhitungkan.

Masa kecil Mas Madji sendiri berjalan biasa-biasa saja, laiknya seorang bocah. Dikalangan teman-teman sepermainannya, dia dikenal sebagai anak pemberani dan lincah. Bahkan sejak duduk di bangku kelas tiga SD Panggung Madiun, ia sudah berani tampil diluar sekolah. Keberaniannya kian matang setelah nasuk SMP. Terlebih ketika duduk di SMU I Madiun.

Yang agak berbeda dibanding teman seusia adalah, kesukaan dia bermain dengan teman yang usianya jauh lebih tua. Kebiasaan bermain dengan rekan berusia lebih tua ini, menjadikan cara berpikir Mas Madji cepat menjadi dewasa.

Masuk Persaudaraan Setia Hati Terate

Tarmadji Boedi Harsono mulai tertarik pada olah raga kanuragan (bela diri), saat berusia 12 tahun. Ceritanya, saat itu tahun 1958, di halaman Rumah Dinas Walikota Madiun digelar pertandingan seni bela diri pencak silat (sekarang; permainan ganda). Satu tradisi tahunan yang selalu diadakan untuk menyambut hari proklamasi kemerdekaan. Tarmadji kecil sempat kagum pada permainsn para pendekar yang tampil di panggung. Terutama R.M. Imam Koessoepangat, yang tampil saat itu dan keluar sebagai juara.


Sepulang melihat gelar permainan seni beladiri pencak silat itu, benaknya dipenuhi obsesi keperkasaan pendekar yang tampil di gelanggang. Ia bermimpi dalam cita rasa dan kekaguman jiwa kanak-kanak. Cita rasa dan kekaguman itu, menyulut keinginan dia belajar pencak agar menjadi pendekar perkasa. Sosok pendekar sakti sekaligus juara, persis seperti yang tergambar dalam benaknya.


Kebetulan tidak jauh dari rumahnya, tepatnya di Paviliun Kabupaten Madiun (rumah keluarga R.M. Imam Koesoepangat, terletak bersebelahan dengan Pendopo Kabupaten Madiun) ada latihan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate. Pelatihnya adalah R.M. Imam Koessoepangat. Selang sepekan sejak menonton permainan seni pencak silat di halaman Rumah Dinas Walikota itu, Tarmadji Boedi Harsono memberanikan diri menemui R.M. Imam Koesoepangat, meminta agar diperbolehkan ikut latihan. Namun, permintaan itu ditolak dengan alasan usianya masih terlalu muda.


Saat itu ada tata tertib, yang boleh mengikuti latihan Persaudaraan Setia Hati Terate adalah anak dengan usia 17 tahun keatas (sudah dewasa). Atau anak yang sudah duduk dibangku SLTA. Ia baru diperbolehkan ikut latihan pada tahun berikutnya, yakni tahun 1959.

Kebetulan adik kandung Mas Imam, R.M. Abdullah Koesnowidjojo (Mas Gegot), juga ngotot pengen ikut latihan. Untuk menemani, Tarmadji, akhirnya diperbolehkan ikut latihan, dengan syarat, harus menempati baris paling belakang, bersama-sama dengan Mas Gegot.


Kesempatan pertama yang diberikan padanya, benar, tak disia-siakan. Hari-hari setelah diizinkan ikut latihan, boleh dibilang, dipenuhi gerak dan langkah Persaudaraan Setia Hati Tetate. Apalagi jadwal latihan saat itu belum terformat seperti sekarang ini. Kadang siang hari, sepulang R.M. Imam Koessoepangat dari pekerjaannya. Tidak jarang, ia berlatih di malam hari hingga waktu fajar.


Satu hal yang cukup mendukung proses latihannya adalah kedekatan tempat tinggalnya dengan Paviliun. Ini karena rumah keluarga Tarmadji hanya terpaut sekitar 200 meter arah Barat dari Paviliun. Terlebih, R.M. Abdullah Koesnowidjojo sendiri merupakan teman  akrabnya. Hampir setiap hari, ia bermain di Paviliun dan setiap pukul 13.00 WIB, ia dan R.M. Abdullah Koesnowidjojo, telah menunggu kepulangan Mas Imam (panggilan akrab R.M. Imam Koessoepangat) di beranda Paviliun. Begitu melihat Mas Imam pulang, ia langsung menyalami dan bersabar menunggu sang pelatih makan siang. Kadang harus bersabar pula menunggu cukup lama, ksrena Mas Imam perlu istirahat selepas kerja.


Berhari-hari, berbulan bahkan bertahun, ketekunan dan kesabaran serupa itu dilakukannya. Obsesinya hanya satu, ia ingin menjadi pendekar Persaudaraan Setia Hati Terate. Seorang pendekar yang tidak saja menguasai ilmu beladiri, terapi juga mengerti hakikat kehidupan. Ia ingin tampil sebagai sosok manusia seutuhnya. Manusia yang cukup diperhitungkan, menjadi teladan bagi sesama. Dan, jalan itu kini mulai terbuka. Mas Madji tak ingin menyia-nyiakannya.


Ketekunan dan kemauan kerasnya itu, menjadikan R.M. Imam Koessoepangat menaruh perhatian penuh padanya. Perhatian itu ditunjukkan dengan seringnya dia diajak mendampingi beliau melakukan tirakatan ke berbagai tempat, kendati saat itu masih siswa dan belum disayahkan.


Dari Paviliun ini, Tarmadji kecil, selain belajar pencak silat, juga mulai menyerap ajaran tatakrama pergaulan dalam lingkungan kaum ningrat. Satu tatanan pergaulan kelompok bangsawan trah kadipaten pada zamannya. Pergaulan dengan R.M. Imam Koessoepangat ini, membuka cakrawala baru baginya. Tarmadji yang lahir dan berangkat dari keluarga awam, sedikit demi sedikit mulai belajar tatakrama rutinitas hidup kaum bangsawan. Dari tatakrama bertegur sapa dengan orang yang usia lebih tuwa, bertamu, makan, minum, hingga ke hal-hal yang berbau ritual, misalnya olahrasa (latihan mempertajam daya cipta) atau laku tirakat. Dalam istilah lebih ritual lagi, sering disebut tapa brata, disamping tetap tekun belajar olah kanuragan.


Salah satu pesan yang selalu ditekankan R.M. Imam Koessoepangat setiap kali mengajak dia melakukan tirakatan adalah; "Jika kamu ingin hidup bahagia, kamu harus rajin melakukan tirakat". Disiplin mengendalikan dirimu sendiri dan jangan hanya mengejar kesenangan hidup. Nek sing mok goleki senenge, bakal ketemu sengsarane. Kosokbaline, nek sing mok goleki sengsarane, bakal ketemu senenenge (jika kamu hanya mengejar kesenangan kamu akan terjerumus kelembah kesengsaraan. Sebaliknya jika kamu rajin berlatih, mengendalikan hawa nafsumu, rajin tirakatan, kelak kamu akan menemukan kebahagiaan). Ingat, sepira gedhening sengsara, yen tinampa amung dadi coba (seberat apapun kesengsaraan yang kamu jalani, jika diterima dengan lapang dada, akan membuahkan hikmah).


Berangkat dari Paviliun ini pula, dia mulai mengenal tokoh Persaudaraan Setia Hati Terate, seperti Soetomo Mangkoedjojo, Badini, Salyo (Yogyakarta), Murtadji (Solo), Sudardjo (Porong) dan Harsono (putra Ki Hadjar Hardjo Oetomo - pendiri PSHT), Koentjoro, Margono, Drs Isayo (ketiganya tinggal di Surabaya), serta Niti (Malang).

Disamping mulai akrab dengan sesama siswa Persaudaraan Setia Hati Terate. Diantaranya Soedibjo (sekarang tinggal di Palembang), Soemarsono (Madiun), Bambang Tunggul Wulung (putra Soetomo Mangkoedjojo, tinggal di Semarang), Soediro (alm), Soedarso (alm), Bibit Soekadi (alm) dan R.M. Abdullah Koesnowidjojo (alm).


Suatu malam, tepatnya sepekan sebelum disyahkan, Soetomo Mangkoedjojo datang kerumahnya. Padahal saat itu malam sudah larut dan dia sendiri mulai beranjak tidur. Mendengar suara ketukan pintu, iapun bangkit, membukakan pintu. Ia sempat kaget saat mengetahui yang datang adalah tokoh Persaudaraan Setia Hati Terate. Namun ketika dipersilahkan masuk, Soetomo Mangkudjojo menolaknya dan hanya berpesan, "Dik, persaudaraan nang SH Terate, nek ono sedulure teko, mbuh iku awan opo bengi, bukakno lawang sing amba. Mengko awakmu bakal entuk hikmahe" (dik, persaudaraan di Setia Hati Terate itu, jika ada saudara datang, entah siang atau malam, bukakan pintu lebar-lebar. Nanti, engkau bakal mendapatkan hikmah).

Pesan dari tokoh peletak dasar organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate itu, hingga dihari tuanya terus terngiang dalam benaknya. Pesan itu pulalah yang menjadikan dirinya setiap saat selalu bersedia membukakan pintu bagi warga Persaudaraan Setia Hati Terate yang bertandang ke rumahnya di Jln. MT Haryono 80 Madiun, hingga saat ini.

Setelah berlatih selama lima tahun, yakni pada tahun 1963, Tarmadji Boedi Harsono disyahkan menjadi Pendekar Persaudaraan Setia Hati Terate Tingkat I, bersama-sama Soediro, Soedarso, Bibit Soekadi, Soemarsono, Soedibjo, Bambang Tunggul Wulung dan RM. Abdullah Koesnowidjojo.

(disalin sebagian dari buku MENGGAPAI JIWA TERATE, oleh H.Tarmadji Boedi Harsono, SE terbitan agustus tahun 2000)

Posting Komentar

0 Komentar