Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Edisi Medsos 1: Ketika Kita Memilih


Prioritas memilih bersikap dalam kehidupan itu penting. Salah memilih prioritas bisa berakibat fatal. Betapa banyak orang yang galau, menyesal dan pusing gara-gara salah memilih sikap. Kurang tepat mengambil tindakan apa yang seharusnya dilakukan. Misal ada orang berteriak minta tolong karena tenggelam. Lalu karena jiwa patriotik kita terpanggil, kita langsung menceburkan diri. Nggak sadar diri kita juga nggak bisa berenang, apa yang terjadi…? Dua-duanya tenggelam. Tragis. Padahal di samping kita tadi ada tali yang jika kita lempar ke orang tersebut, justru akan menyelamatkannya. Padahal di samping kita juga ada ban. Yuk berfikir jernih. Jangan salah memilih sikap. Kalau begitu bagaimana dong kita…? Ada baiknya simak kisah embun pagi berikut.
*Toples Kehidupan PSHT*
*Filosofi Bijak Memilih Prioritas organisasi*

*Toples Kehidupan PSHT dalam Sebuah Filosofi Pilihan*

Seorang pelatih di depan siswanya memulai materi kuliah toples kehidupan. Beliau menaruh toples yg bening dan besar di atas meja. Lalu sang pelatih mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi.

Beliau bertanya: “Apakah toples ini sudah penuh?”

Siswa menjawab: “Sudah penuh”.

Lalu sang pelatih mengeluarkan kelereng dari kotaknya dan memasukkan nya ke dalam toples tadi. Kelereng mengisi sela-sela bola tenis hingga tidak muat lagi.

Beliau bertanya: “Apakah toples ini ssudah penuh?”

Siswa menjawab: “Sudah penuh”.

Pelatih menuangkan Kelereng ke toples yg penuh bola basket

Setelah itu sang guru mengeluarkan pasir pantai dan memasukkan nya ke dalam toples yang sama. Pasir pun mengisi sela-sela bola dan kelereng hingga tidak bisa muat lagi. Semua sepakat kalau toples sudah penuh dan tidak ada yang bisa dimasukkan lagi ke dalamnya.

Beliau bertanya: “Apakah toples ini ssudah penuh?”

Siswa menjawab: “Sudah penuh”.

Tetapi terakhir sang guru menuangkan air kopi ke dalam toples yang sudah penuh dengan bola, kelereng dan pasir itu. Secangkir, dua cangkir, tiga cangkir hingga sepuluh cangkir. Dan betul saja tak ada yang tumpah sedikitpun. Dan ternyata masih muat hingga 10 cangkir. Itulah makna yang mendalam dalam toples kehidupan.

Toples Kehidupan adalah Sebuah Pelajaran

Sang PELATIH kemudian menjelaskan bahwa, organisasi PSHT kita kapasitasnya terbatas seperti toples. Ya seperti toples kehidupan. Masing-masing dari kita berbeda ukuran toplesnya.

*Bola tenis* adalah hal-hal besar dalam toples kehidupan PSHT, hal yang besar dalam hidup kita. Yakni tanggung-jawab terhadap Tuhan, organisasi dan ajaran PERSAUDARAAN .

*Kelereng* adalah hal-hal yang penting seperti  sikap hormat kpd  senior,sesepuh,dan tatakrama.
*Pasir* adalah yang lain-lain dalam toples kehidupan kita. Seperti tugas kita sebagai warga PSHT, ada yang jdi pelatih, pengurus, pemberi k sh an dsb..

Jika kita isi hidup kita dengan mendahulukan pasir hingga penuh, maka kelereng & bola tennis tidak akan bisa masuk. Berarti, hidup kita hanya berisikan tugas tugas keseharian yg rutinitas, Hidup organisasi terasa kaku dan santai, sementara Tuhan, dan aplikasi kehidupan kita canggung dimasyarakat dlm penerapan  ajaran PERSAUDARAAN

Jika toples kehidupan kita isi dengan mendahulukan bola tenis. Lalu kelereng dan seterusnya seperti tadi, maka hidup kita akan lengkap. Berisikan mulai dari hal-hal yg besar dan penting hingga hal-hal kecil yang menjadi pelengkap.

*Cara Cerdas dan Bijak Memilih Sikap*

Karenanya, kita harus mampu mengelola hidup secara cerdas & bijak. Harus pandai mengisi toples kehidupan organisasi kita. Tahu menempatkan mana yg prioritas dan mana yg menjadi pelengkap.
Jika tidak, maka organisasi kita bukan saja tdk lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali”.

Lalu sang guru bertanya: “Adakah di antara kalian yg mau bertanya?”

Semua siswa terdiam, karena sangat mengerti apa inti pesan dalam pelajaran tadi.

Namun, tiba-tiba seseorang nyeletuk bertanya: “Apa arti air kopi yg dituangkan tadi …..?”

Sang pelatih menjawab sebagai penutup.

Beliau menjawab: *“Sepenuh dan sebesar apa pun masalah organisasi kita, jangan lupa masih bisa disempurnakan dengan bersilaturahim. Jalin persaudaraan dan persahabatan dengan sebanyak mungkin orang sambil “minum kopi”.*

*Jaga silaturahmi dengan sesepuh, senior, adik, dan semua warga PSHT dari berbagai kalangan lupakan buruk sangka utamakan PERSAUDARAAN .*

Saling bertegur sapa, saling senyum bila berpapasan,berjabat tangan dengan erat….. betapa indahnya organisasi kita ini !

*Penjaga Ajaran PSHT*

Posting Komentar

0 Komentar