Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Alam Islam: Dari Sebuah Kebersamaan


Alam Islam
(Warga Tk 1 PSHT)
Menjadi seorang Warga Tk 1 (sebutan pendekar/ anggota PSHT) merupakan suatu kebahagiaan bahkan kebanggaan bagi Alam Islam (Mas Alam). Menurutnya tidak mudah untuk menjadi seorang Warga PSHT. berbagai cobaan dan ujian harus dilalui oleh seorang siswa. Berbagai tantangan juga harus dihadapi dengan penuh kesabaran. Berikut ini sekelumit cerita Mas Alam tentang proses seorang siswa menjadi Warga PSHT.
JIJIK. Mungkin itu yang terasa saat kali pertama diperintahkan makan bersama oleh pelatih. Bagaimana tidak. Ketika keringat, bau dan debu bercampur di seragam latihan, kita diminta untuk duduk berhimpitan. Sementara ditengah-tengah terhampar bungkusan berisi nasi, lauk dan diselingi ulam kerupuk. Apa boleh buat. Perut lapar harus diisi. Alhasil, makanan yang tersaji tiada lagi tersisa.Itu sekelumit pengalaman saat latihan. Hanya bisa tersenyum saatmengingatnya. Ternyata tehnik ‘perpeloncoan’ itu benar-benar dahsyat manfaatnya. 
Betapa tidak. Tradisi makan bersama (terkadang disertai larangan mencuci tangan) membuat kebersamaan kian erat. Tiada lagi terlihat. Siapa pegawai, buruh, mahasiswa, pelajar, orang tua, si cantik, si jelek. Semua sama. Siswa berseragam hitam.
Tidak cukup sampai disitu. Saat latihan pun terkadang ada cara cukup ”sadis” untuk ”mengerjai” siswa. Satu butir permen harus dihabiskan oleh belasan siswa. 
Caranya tentu satu. Dikulum bergantian sampai permen habis. Kalau diingat sekarang, ngilu rasanya membayangkan. 
Tradisi Makan Bersama Siswa PSHT
Belum lagi ada pelatih yang iseng. Memberikan minuman (bisa kopi atau teh) yang sudah dicampur dengan nasi atau sambal. Terbayang rasanya yang tidak karu-karuan. (Mohon maaf kepada adik-adik siswa, saya dulu pernah melakukan itu). 
Tapi, lagi-lagi itu cara-cara dahsyat menyatukan siswa dalam sebuah rasa. Bahkan hal-hal nyeleneh itu menjadi kenangan manis hingga kini. Terkadang kangen untuk mencicipi lagi ”racikan” nasi dari mas-mas pelatih seperti dulu. 
Akhirnya bisa disimpulkan (sekarang). Tiada niat dari para pelatih untuk mengerjai atau membalas dendam kepada siswa. Ini hanya salah satu bentuk pembelajaran. Betapa kebersamaan itu tidak hanya dinilai dari sebuah pola hidup tertentu. 
Dari tanah berdebu, kotor, terkadang becek, kita disatukan. Tak ada yang bisa membuat kita berbeda. Kita semua sama. Kita adalah saudara. (*Alam Islam)

Posting Komentar

0 Komentar